Jumat, 29 Desember 2017

Merayakan Malam Tahun Baru, gak boleh nih?

Seperti yang saya prediksikan, dipenghujung tahun tepatnya tanggal 29-31 pasti akan ramai bc-an, status, dan sejenisnya di media sosial tentang perayaan tahun baru masehi.

Ada rasa kurang srek menggerayangi hati saya. Terlebih bc-an “Gerakan menyepi di malam tahun baru”. Memangnya ada apa dengan tahun masehi?
Yang saya tahu, penanggalan masehi itu penaggalan yang pada awalnya digunakan oleh umat Nasrani yang kemudian dipakai oleh seluruh dunia hingga zaman now.

Padahal, sadarkah bahwa kita itu menghitung umur kita dari penanggalan masehi, tanggal lahir pun hafalnya yang penanggalan masehi, bahkan penanggalan hijriyah pun kita tidak tahu sekarang bulan dan tanggal berapa. Coba, tahu gak sekarang tanggal dan bulan apa hijriyahnya? Kalau tau, saya mau tanya lagi, tanggal berapa kita lahir menurut penanggalan hijriyah? Jika kita hafal, Alhamdulillah berarti kita peduli terhadap penanggalan hijriyah. Bila tidak, berarti kita sama. Iyah, sama-sama tidak tahu. Hehe. Ini yang pertama.

Yang kedua, pernah gak kita menyadari bahwa perayaan ulang tahun kita itu tidak mengikuti perayaan maulidnya Nabi? Nabi lahir tanggal 12 Rabiul Awal dan penanggalan masehinya tanggal 21 April. Pernah tidak merayakan atau menyaksikan orang-orang merayakan maulid Nabi pada tanggal 21 Aprilnya? Setahu saya tidak. Malah, 12 Rabiul Awalnya, Rabiul Awal itu penanggalan Hijriyah bukan masehi. Sedangkan kita begimana? Saya rasa, saya tidak perlu menjawabnya, cukup tanyakan saja pada diri masing-masing.

(Masih nyambung dengan point yang kedua) Kita ini pengikutnya Nabi Muhammad saw loh, bukan pengikutnya Nabi Isa AS. Iya sih,  Nabi Isa AS juga Rasulullah, tapi di zaman now, kita mengikuti ajarannya Nabi Muhammad SAW bukan ajaran Nabi Isa AS.

Nah, inilah yang menggerayangi hati saya sehingga saya agak sedikit sulit untuk meng-iya kan bc-an “Gerakan menyepi di malam tahun baru” ini, karena isinya itu perintah untu DRS. Apa itu DRS? Di Rumah Saja. Hehe. Juga larangan meniup trompet, menyalakan petasan dan perintah untuk berdzikir.

Untuk larang meniup tromper, it’s OK lah, karena berisik juga kalau malam-malam. Juga menyalakan petasan, selain mubadzir, juga mengganggu kenyamanan bagi mereka yang tengah rebahan, mengganggu kesehatan bagi mereka yang jantungan dan mengganggu ke so-suiiitan bagi mereka yang tengah melakukan hubungan yang bernilai ibadah.

Sedangkan dengan anjuran berdzikir, tilawah, solawatan, it’s sangat OK lah, karena itu sangat baik untuk dunia dan akhirat. Tapi, kenapa tidak boleh merayakan malam tahun baru dan harus DRS....?
Jika memang dalilnya adalah tasyabbuh bil kuffar, berarti kita tidak konsisten mengamalkan dalil tersebut. Bagaimana tidak konsisten, kalau perayaan ulang tahun saja, yang diperingatinya itu tanggal masehinya? apalagi ditambah niup lilin. Memang budaya siapa niup lilin itu? Dari Islam kah? Atau dari kafir? Silahkan jawab sendiri dengan berbisik, biar agak romantis.

Bukan berarti saya melarang perayaan ulang tahun dan niup lilin yah. Tapi, karena saya fikir, tidak konsisten saja dalam pengamalan dalil tersebut.

Bukan juga menyalahkan dalil yang dipakai, tapi cara memahaminya dan menempatkannya.

Kalau saya ditanya tentang perayaan malam tahun baru?

Saya akan menjawab, ya silahkan. Asalkan jangan melanggar peraturan, melakukan kemaksiatan, dan hal yang merusak dan merugikan. Merayakan malam tahun baru itu bukan harus dengan tiup trompet dan bakar petasan saja. Bisa ko diganti, dengan kumpul-kumpul sembari ngeliwet misalnya, atau bakar-bakar ikan bersama keluarga, kerabat dan tetangga sehingga silaturahmi semakin erat. Atau mengikuti pengajian. “Yang lain bakar petasan, kita mah solawatan”, kan menarik dan ciamik. Hehe
Namun, sekiranya tidak mau merayakan, lakukan saja aktivitas seperti malam-malam biasa.

Sekian, semoga bermanfaat. Jika ada yang salah, berarti saya kurang baca dan kurang belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar