Sabtu, 17 September 2016

Tulisan yang Tak Tertuliskan

Tulisan ini adalah curahan segunung kekecewaan yang sudah tak terbendung dan menjadi saksi akan tercabik-cabiknya perasaan penulis.

Menyebalkan memang, ketika suatu keinginan tak terkabul. Terlebih jika keinginan itu sudah disiapkan di jauh jauh waktu untuk dilakasanakan.

Dua hari yang lalu, penulis kembali mengobarkan api semangat untuk menulis, seperti berkobarnya api unggun di kegiatan camping, atau seperti berkobarnya kaki sang black leg Sanji ketika melakukan salah satu jurus andalannya yaitu Diable Jambe atau berkobarnya api sang komandan komisi dua bajak laut Shirohige yakni Ace sang Bajak Laut pemakan buah mera mera no mi yang tewas dipukul oleh Sakazuki yang saat itu masih menjadi Admiral dan sekarang sudah menjadi Flat Admiral dan sekarang buah mera mera no mi tersebut telah dimakan oleh saudara Ace sendiri yaitu Sabo, seperti itulah membaranya api semangat penulis.

Namun, semangat itu tak tertuangkan, karena ada hal yang lebih penting, sebut saja saat itu penulis melakukan ta’dzimul ‘aalim (menghormati orang yang berimu) dengan menolongnya, karena pada saat itu beliau meminta tolong untuk suatu hal. Bagi penulis hal ini merupakan suatu kebiasaan yang sudah diatanamkan sejak kecil oleh para gurunya.

Hari itu (dua hari yang lalu) berlalu tanpa tulisan, hingga tiba hari selanjutnya (kemarin). Hari itu semangat penulis tidak padam, malah semakin berkobar seperti halnya kobaran jurus pertama yang dikeluarkan oleh Sang komandan divisi kedua pasukan Revolusioner “Sabo” setelah memakan buah Mera mera no mi di Coloseum di pulau Dressrosa. Penulis saat itu membuka notebook nya yang sudah menjadi komputer (kalo dicabut casannya, komputernya langsung mati) dan membuka Microsoft word plus aplikasi Winamp supaya bisa menulis sambil mendengarkan musik.

Ketika lagu pertama yaitu lagunya Jessie J feat B.O.B yang berjudul Price Tag diputar, seorang teman meminta tolong untuk diantar ke sebuah stasiun. Dengan senang hati penulis mengantarnya. Setiba di kamar lagi, penulis buka kembali komputernya dan memutarkan musiknya.

Namun, harapan tak sesuai kenyataan. Ketika lagu pertama yaitu lagunya Jessie J feat B.O.B yang berjudul Price Tag diputar kembali, tiba-tiba “rep”, komputer mati. Ternyata colokan terminal tercabut.

Ooooooooooooow, ingin teriak sekencang-kencangnya hingga berubah menjadi super saiya ke 3 seperti halnya Son Goku. Itulah yang dirasakan. Tapi, emosi hanya akan memperburuk keadaan. Itulah yang diingat penulis.

Selepas itu, sang pecoret memulai lagi membuka komputernya dan membuka word beserta winamp nya. Tak lama kemudian, colokan terminal terusik kembali. Dan ooooooooow, seolah ingin berubah menjadi “Bounce Man” milik Mugiwara no Luffy dan menghancurkan semua yang ada disekitar dengan jurus Kingkong Gun nya. Namun lagi-lagi, teringat bahwa emosi tak akan memperbaiki keadaan, malah memperburuk keadaan.

Penulis beristirahat sejenak, menunggu sang pengusik colokan terminal selesai dengan apa yang ia lakukan hingga penulis yakin tak akan terganggu lagi. Dan ternyata, yang terjadi adalah “ketiduran”.

Singkat cerita, tibalah waktu ashar, ketika penulis bermaksud untuk untuk membuka komputer, penulis teringat akan janjinya untuk bertemu dengan teman lamanya. Dan akhirnya, menulis hanyalah sebagai angan semata.

Waktu ashar pun terlewati tanpa tulisan, juga waktu maghrib, dan waktu ba’da isya pun demikian hingga keesokan harinya yaitu hari ini.

Namun, tulisan ini bukanlah tulisan yang ingin ditulis oleh penulis kemarin dan kemarin lusa. Tulisan ini hanyalah sebuah curahaan kekecewaan akan kejadian dua hari itu yang tanpa tulisan.

Yeah, semoga tulisan ini menjadi awal akan keterbiasaannya penulis untuk senantiasa menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar