Rabu, 28 Oktober 2015

JAWABAN PERTANYAAN


Sore rabu tadi, tepatnya sekitar waktu ashar, seperti biasanya kami mengikuti mata kuliah Ilmu Retorika yang dibimbing oleh Dosen kami yaitu Ibu Kalsum Minangsih, MA Hafidzahallah. Kebetulan pada pertemuan itu ada dua kelompok pemakalah yang mana keduanya mempersentasikan mengenai “Persiapan pidato dan teknik pidato”. Kami rasa kedua materi ini adalah yang paling manfaat daripada materi-materi sebelumnya, ah begitulah hemat kami.

Dalam pemaparannya, para persentator sangat semangat dan cermat dalam menyampaikan materinya, sehingga kamipun sangat menikmati pemaparannya. Setelah selesai pemaparan dari kedua kelompok, tibalah sesi pertanyaan, seperti biasa dua pertanyaan bagi tiap-tiap kelompok. Bermacam-macam pertanyaan pun dilontarkan oleh para audiens kepada para pemakalah.

Dari semua pertanyaan yang diajukan oleh para audiens, ada satu pertanyaan yang paling menarik menurut kami. Pertanyaan tersebut datang dari teman kami sendiri yakni seorang mahasiswi solehah, fatonah dan tentunya jamilah, hehe.

Secara sekilas, pertanyaan itu terlihat lebay, namun ternyata pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mendapat apresiasi dari Bu Kalsum selaku dosen pembimbing dan juga menjadi persoalan yang ramai didiskusikan oleh kami dan teman-teman kami. Keren kan?

Pertanyaannya adalah “Bagaimana caranya menghilangkan kesedihan?” hehe…. Bisa kebayang kan agak lebay pertanyaannya?

Awalnya, kami dan teman kami menertawakan pertanyaannya. Yaaa maklum lah, seorang mar’ah solihah fatonah dan jamilah dengan statusnya yang mahasiswi semester 3 yang masih rentan dengan “kisah kasih” menanyakan hal seprti itu. Ah begitulah hemat kami yang menyangka bahwasanya ksedeihan tersebut disebabkan oleh “Kisah kasih” meski sesungguhnya bukan seperti itu. Tapi kami rasa temen-temen yang menertawakan juga berfikiran sama seperti kami. Hehe

Dari pertanyaan tersebut, kami mencoba untuk menjawabnya, berikut adalah jawaban dari kami:
“Memang, suatu saat setiap orang pasti akan merasakan kesedihan, terlebih lagi remaja. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Remaja Itu Rawan Akan Depresi, terlebih lagi anak kos-kosan, trus tanggal tua ditambah peralatan mandi sudah habis, cucian numpuk, banyak tugas deadline, menjelang UTS, dan juga Malem minggu (hehe.. maklum jomblo), kebayang kan sedihnya??? (spontan temen-temen terbahak-bahak mendengar jawaban kami, kami pun juga tak luput tertawa karena kami rasa itu lucu juga, hehe). Bagaimana cara mengatasinya? (lanjut kami dengan mimik muka serius), jawabannya adalah TERSENYUM. Alasannya kenapa? Jika temen-temen pernah membaca buku La Tahzan karangan Dr. Aidh Al-Qarni , disana dikatakan bahwa Tersenyum adalah salep bagi kesedihan dan balsem bagi kegalauan (yomaaaaaaaaan).” Hehe…

Mendengar jawaban dari kami, semua peserta diskusi termasuk dosen kami, semuanya tersenyum bahkan ada yang tertawa ringan. Selain itu ada yang diam-diam mencatat perkataan Dr. Aidh Al-Qarni yang kami sampaikan, dan setelah itu dia jadikan sebagai status fb nya dan menandai fb kami sendiri. Hehe……
           
     Lanjut kami “Itu cara yang pertama, cara yang kedua, kesedihan itu tidak lepas dari fikiran dan hati kita yang terjerat mumet dan enjelimet. Hehe.. bagaimana cara mengatasinya? Yaitu dengan cara sholat dan memperlama tatkala sujud terakhir. Kenapa seperti itu? jawabannya adalah karena ketika kita sujud, maka darah akan mengalir kepada kepala kita dan jika kita melamakan sujud, maka darah yang mengalir akan semakin banyak, setelah itu ketika mengangkat kepala yang terjadi adalah plooooong, dunia serasa cerah kembali dan kita akan merasakan perubahan. Begitulah yang dikatakan oleh buku yang sempat saya baca. Sekian dari saya, terimakasih.”

Ah, betapa bahagianya kami sore tadi… bisa menjawab pertanyaan dengan tenang dan lancar dan bisa difahami oleh orang lain. Memang terlihat sederhana faktor yang membuat kami bahagia ini, tapi ini merupakan keinginan kami, yakni bisa berbicara bahasa Indonesia yang jelas dan dapat difahami, disamping itu juga mengandung humor tanpa meniadakan hikmah dari perkataan kami tersebut. Alhamdulillah


Semoga saja, dengan proses kami belajar berbicara ini menjadi jembatan bagi kami untuk menjadi pembicara yang baik dikemudian hari. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar